Deputi Bidang Geoekonomi Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., menjadi pembicara utama dalam kegiatan PYC Talks Vol. II yang diselenggarakan oleh Purnomo Yusgiantoro Center di Ruang Galeri PYC, Jakarta Selatan, Selasa (28/4).
Kegiatan yang mengangkat tema “Program Energi Nuklir Indonesia: Penerimaan Publik, Strategi Komunikasi, dan Mitigasi Bencana” ini membahas arah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia, khususnya dari aspek tata kelola, penerimaan publik, komunikasi risiko, serta pengelolaan keselamatan dan mitigasi bencana.
Dalam paparannya, Dr. Yayat Ruyat menegaskan bahwa energi nuklir memiliki nilai strategis dalam mendukung kemandirian energi, daya saing industri, dan stabilitas pertahanan nasional. PLTN tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur energi, tetapi juga sebagai bagian dari kepentingan strategis negara yang berkaitan dengan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.

Dari perspektif pertahanan dan keamanan nasional, pembangunan PLTN memerlukan sistem pengamanan yang menyeluruh. Keamanan nuklir tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi pertahanan semesta. Oleh karena itu, pengembangan PLTN perlu memperhatikan prinsip keamanan fisik, keselamatan teknis, keamanan siber, serta non-proliferasi.
Dr. Yayat juga menekankan pentingnya kesiapan nasional dalam menghadapi karakteristik geografis Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana, seperti zona seismik aktif, potensi tsunami, dan aktivitas gunung berapi. Karena itu, pengembangan PLTN harus didukung standar keselamatan tinggi, sistem keselamatan pasif, kesiapsiagaan darurat, serta penguatan komunikasi publik yang transparan dan berbasis bukti.
Dari aspek geostrategi, PLTN berpotensi menjadi sumber energi dasar atau baseload power yang mampu memperkuat stabilitas sistem energi nasional dan meningkatkan ketahanan terhadap krisis global. Sementara dari aspek geopolitik, PLTN dapat memperkuat kedaulatan energi sekaligus membuka ruang diplomasi nuklir jangka panjang dengan negara penyedia teknologi, dengan tetap memperhatikan aspek non-proliferasi dan pengawasan internasional.

Adapun dari aspek geoekonomi, PLTN dinilai memiliki dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional. Meskipun membutuhkan investasi besar, PLTN memiliki biaya operasional relatif rendah, umur pakai panjang, serta dapat mendorong efek pengganda ekonomi melalui penguatan industri manufaktur berat, riset dan inovasi, serta pengembangan tenaga kerja berkeahlian tinggi.
Melalui forum ini, DPN menegaskan bahwa pengembangan ekosistem nuklir nasional perlu dilakukan secara hati-hati, terukur, dan terintegrasi, mencakup penguatan regulasi, penataan kelembagaan, penyiapan sumber daya manusia, pemilihan teknologi, skema kerja sama, infrastruktur pendukung, serta penerimaan masyarakat.
Kegiatan PYC Talks Vol. II turut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, industri, dan akademisi untuk memperkaya pembahasan mengenai penerimaan publik, strategi komunikasi, dan mitigasi bencana dalam pengembangan energi nuklir di Indonesia.

