Dewan Pertahanan Nasional (DPN) terus mendorong penguatan ketahanan pangan dan energi nasional melalui inovasi berbasis sumber daya lokal. Salah satu langkah strategis yang tengah dikembangkan adalah transformasi singkong menjadi komoditas bernilai tinggi yang disebut sebagai “White Gold” atau “Emas Putih”. Gagasan ini mengemuka dalam audiensi antara DPN dan tim dari Universitas Negeri Lampung yang berlangsung di Ruang Rapat Deputi Geoekonomi DPN, Senin 13 April 2026.
Pertemuan tersebut dipimpin oleh Deputi Geoekonomi Dr. Yayat Ruyat, M.Eng, dan dihadiri oleh sejumlah pakar serta jajaran internal DPN. Dari pihak akademisi, hadir Prof. Dr. Udin Hasanudin bersama Warsono, Ph.D., dan Akbar Hanif Dawam yang memaparkan berbagai potensi pengembangan singkong dari hulu hingga hilir. Diskusi ini menitikberatkan pada upaya menjadikan singkong tidak lagi sekadar komoditas pertanian dasar, melainkan sebagai pilar penting dalam mendukung kemandirian ekonomi nasional.

Dalam pemaparannya, Warsono, Ph.D. mengusulkan pembentukan pusat pengembangan singkong (cassava center) untuk menghasilkan varietas unggul yang lebih produktif dan adaptif terhadap kebutuhan industri. Sementara itu, Prof. Dr. Udin Hasanudin menekankan pentingnya penataan zonasi lahan agar pemanfaatan singkong untuk industri pangan seperti tapioka tidak berbenturan dengan kebutuhan energi, khususnya bioetanol. Di sisi lain, Akbar Hanif Dawam menyoroti peluang besar singkong sebagai bahan alternatif pengganti plastik dan bahan kimia, terutama di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang tidak menentu.
Sinergi gagasan ini bertujuan meningkatkan nilai tawar petani di pasar global. Tak hanya berfokus pada produksi, pertemuan ini juga menyoroti pentingnya penerapan konsep ekonomi sirkular dalam pengolahan singkong. Limbah hasil produksi direncanakan dapat diolah kembali menjadi biogas sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Selain itu, produk turunan seperti tepung MOCAF didorong untuk dikembangkan pada skala UMKM dan rumah tangga, guna mendukung diversifikasi pangan nasional sekaligus memperkuat program Food Estate.

Melalui berbagai gagasan tersebut, diharapkan tercipta ekosistem industri singkong yang terintegrasi, higienis, dan berkelanjutan, serta mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat, khususnya petani. Dalam hal ini, DPN menegaskan komitmennya untuk berperan sebagai fasilitator lintas sektor guna mendukung ketahanan ekonomi, khususnya pangan dan energi nasional.
Ke depan, penguatan peran Koperasi Merah Putih juga menjadi salah satu fokus utama, sebagai penghubung antara petani dan industri pengolahan. Dengan dukungan dan sinergi dari berbagai kementerian dan lembaga terkait, DPN optimistis pengembangan “Emas Putih” berbasis singkong ini dapat menjadi gerakan nasional yang berdampak luas, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan dan energi.

