Dewan Pertahanan Nasional (DPN) yang diwakili oleh Deputi Geostrategi Mayjen TNI Ari Yulianto, S.I.P., M.H.I., di damping Tenaga Ahli dan Kepala Sekretariat DPN, menerima audiensi Atase Pertahanan Singapura, Me7 Melvin Gan (Defence Attaché Republic of Singapore) bersama SLTC Eric Goh (Naval Attaché Republic of Singapore) bertempat di Ruang Tamu DPN, pada hari Rabu (13/5). Audiensi ini dalam rangka memperkuat komunikasi strategis dan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Singapura. Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan produktif, dengan fokus pembahasan pada dinamika pertahanan dan keamanan nasional, keamanan maritim, Siber, serta peluang kerja sama ekonomi strategis.
Pertemuan tersebut dimulai dengan perkenalan singkat profil DPN, selanjutnya Deputi Geostrategi Mayjen TNI Ari Yulianto menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura selama ini telah terjalin erat, baik melalui kerja sama pendidikan, latihan, interaksi antarpersonel militer, maupun hubungan kelembagaan. DPN juga menjelaskan perannya sebagai lembaga yang memberikan pertimbangan dan solusi kebijakan strategis kepada Presiden di bidang pertahanan nasional, dengan cakupan isu yang bersifat lintas sektor, meliputi pertahanan keamanan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, dan dinamika lingkungan strategis.

DPN menekankan bahwa perubahan karakter ancaman global menuntut penguatan kerja sama yang lebih adaptif. Ancaman saat ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup keamanan siber, manipulasi informasi, media sosial, online scam, human trafficking, kejahatan lintas batas, serta berbagai aktivitas ilegal yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Atase Pertahanan Singapura menyambut baik pandangan tersebut dan menyampaikan bahwa Singapura juga menghadapi tantangan serupa, terutama peningkatan ancaman digital dan kejahatan siber. Singapura telah membentuk Digital and Intelligence Service sebagai matra keempat dalam Singapore Armed Forces yang menangani bidang siber, intelijen, informasi, komunikasi, kecerdasan buatan, data science, serta perlindungan sistem pertahanan dari ancaman digital.
Selain isu siber, kedua pihak juga membahas pentingnya pengamanan Selat Malaka sebagai jalur strategis perdagangan dunia. DPN menegaskan bahwa keamanan Selat Malaka perlu terus dijaga melalui kerja sama negara-negara pantai, khususnya Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Kerja sama patroli terkoordinasi, pertukaran informasi, pengawasan maritim, dan interoperabilitas antar aparat dinilai penting untuk memastikan Selat Malaka tetap aman, terbuka, dan mendukung stabilitas ekonomi kawasan.

Dalam bidang ekonomi, DPN melihat adanya potensi besar untuk memperkuat kerja sama Indonesia-Singapura. Indonesia memiliki sumber daya alam, lahan, dan pasar yang besar, sedangkan Singapura memiliki keunggulan teknologi, sumber daya manusia, modal, dan jaringan investasi. Sinergi tersebut dinilai dapat dikembangkan pada sektor energi, green energy, teknologi, kawasan industri, serta isu strategis lain yang berkaitan dengan ketahanan ekonomi dan keamanan nasional.
Audiensi juga membahas peluang pertukaran informasi, kunjungan kelembagaan, serta dialog lanjutan antara DPN dan lembaga terkait di Singapura. Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat untuk terus memperkuat komunikasi dan penjajakan kerja sama, khususnya dalam bidang keamanan siber, penanganan online scam, pertukaran informasi, kerja sama antarlembaga, serta pengamanan Selat Malaka. Pertemuan ini menegaskan komitmen Indonesia dan Singapura untuk memperluas kerja sama pertahanan dan keamanan dalam menghadapi tantangan kontemporer yang semakin kompleks.

